HOME
Advertisement
ETRO Jakarta Newsletter Vol.38 / Oktober 2007 PDF Cetak E-mail
Minggu, 11 Pebruari 2007
JETRO menyelenggarakan Forum Bisnis Indonesia - Jepang Dalam forum bisnis bertema: ”Strategi Bisnis Global dan JIEPA”.
Pada sesi ini dibahas bagaimana memposisikan Indonesia dalam rangka
perancangan strategi global oleh perusahaan serta dampak dari JIEPA.

Pembicara utama dalam sesi ini adalah Menteri Perdagangan, Mari
Pangestu dan Ketua Komite Ekonomi Jepang-Indonesia Nippon Keidanren,
Okitsu, sedangkan panelis adalah Deputi ekonomi dan industri, Toyoda,
Wakil ketua Kadin, John Prasteyo dan CEO JETRO, Hayashi Okitsu
menyatakan bahwa terdapat rencana investasi senilai 7 miliyar USD
selama 5 tahun ke depan dan ia mengharapkan adanya perbaikan iklim
investasi yang lebih baik, agar pelaksanaan investasi tersebut dapat
berjalan dengan lancar.

Mari Pangestu: Menekankan Kerjasama antara Pemerintah dan Swasta untuk Mewujudkan Kondisi Saling Menguntungkan bagi Kedua Negara

Mari menyambut dengan hangat kedatangan misi ekonomi besar dari Jepang
tersebut dan meyatakan harapannya agar ada kunjungan berikutnya.

Menurutnya hari ini merupakan hari yang bersejarah, dimana JIEPA
ditandatangani dan menjelaskan bahwa tujuan JIEPA adalah meningkatan
perdagangan dan investasi di Indonesia, meningkatkan ekspor serta
memposisikan Indonesia sebagai basis produksi .

Menurutnya, Jepang telah menurunkan peringkat Indonesia sebagai negara tujuan
investasi sejak krisis moneter. Pada tahun 1997, Indonesia berada pada peringkat 3,
selanjutnya turun ke peringkat 6 pada tahun 2003, dan kemudian menjadi peringkat 9
pada tahun 2006.

Namun melalui JIEPA, akan terbentuk fondasi yang kuat dimana kondisi
akan berubah secara positif dan terdapat berbagai keuntungan potensial,
dimana sekitar 90% pajak untuk akses pasar ke Jepang menjadi nol,
padahal selama ini tekstil, apparel, alas kaki, kayu, kopi dll
merupakan produk berbea masuk tinggi. Selain itu, Jepang mempunyai
kesan bahwa kepastian dan kestabilan di Indonesia akan membaik.

Diharapkan juga adanya peningkatan investasi di bidang non energi.
Telah direncanakan kerjasama dalam capacity building di bidang
pertanian, perikanan, manufaktur dll, sehingga diharapkan menjadi
terobosan untuk meningkatkan investasi.

Yang tidak kalah penting adalah bantuan JETRO dalam rangka program OVOP(One Village One Product).

Ditekankan juga bahwa penting dalam pelaksanaan JIEPA adalah kerjasama antara
pemerintah dan swasta sehingga memberi manfaat bagi kedua negara. Menurutnya,
persiapan akan diselesaikan sebelum akhir tahun sehingga implementasi JIEPA dapat
dimulai sejak tanggal 1 Januari tahun depan.

Okitsu: Rencana Investasi Senilai 7 Miliyar USD selama 5 Tahun ke Depan

Ia mengemukakan akan adanya beberapa tantangan yang berkaitan dengan strategi bisnis
global pasca penadatanganan JIEPA sebagai berikut. Indonesia sebagai negara besar di
ASEAN, merupakan mitra penting bagi dunia ekonomi Jepang baik di bidang
perdagangan maupun investasi. Sehingga yang terpenting adalah
mempererat dan menggiatkan hubungan ekonomi kedua negara. Sejak dulu,
Nippon Keidanren telah meminta penandatanganan JIEPA dengan Indonesia
dilaksanakan secepat mungkin, mengingat Indonesia merupakan negara
penting secara strategis.

Ia menyatakan kegembiraannya atas penandatanganan JIEPA pada hari ini
dan sekaligus meminta agar kedua negara segera mengefektifkan
pelaksanaannya.

Menurut hasil angket yang diadakan menjelang kunjungan misi ini – yang
bertujuan untuk memahami masalah yang dihadapi pengusaha dalam rangka
pengembangan bisnis - terdapat banyak masukan dalam hal:
(1) perbaikan prosedur perizinan ketenagakerjaan dan visa,
(2) perbaikan iklim ketenagakerjaan termasuk revisi regulasi ketenagakerjaan,
(3) prosedur administratif yang efektif tanpa rintangan masalah antar lembaga,
(4) peningkatan transparansi prosedur perpajakan,
(5)tranparansi UU Penanaman Modal baru, dan
(6) perlindungan HKI yang efektif dll.

Dengan penandatanganan JIEPA dan juga pelaksanaan SIAP yang ditetapkan
dalam forum investasi gabungan pemerintah-swasta dengan pasti, ia yakin
bahwa daya saing
internasional dan daya saing investasi Indonesia akan semakin meningkat. Selama ini
telah ada upaya-upaya perbaikan iklim investasi di bidang hukum seperti UU Penanaman
Modal, Paket Kebijakan Ekonomi yang baru. Maka dimasa yang akan datang, diharapkan
upaya-upaya serupa akan dilaksanakan dengan lebih giat agar implementasi di lapangan
menjadi lebih efektif..

Dari segi strategi bisnis global, Ia menyinggung potensi dalam peningkatan hubungan
kerjasama kedua negara pasca penandatanganan JIEPA. Dunia ekonomi Jepang
memposisikan kerjasama yang aktif di bidang penguatan daya saing internasional bagi
produk Indonesia.

Selain itu pengembangan industri dan SDM di Indonesia sangat diperlukan
dalam pengembangan dan perkembangan hubungan ekonomi kedua negara.
Untuk itu, Ia mengharapkan 2 hal, yaitu adanya upaya yang berkaitan
dengan aturan hukuman
dan penindakan dini dalam rangka perlindungan HKI serta adanya kejelasan dalam hal
kebijakan pengembangan industri ke depan.

Menghadapi persaingan global yang semakin ketat, perusahaan Jepang lebih sensitif
terhadap iklim bisnis di negara tujuan investasi, khususnya dalam hal pelaksanaan
pengadaan, produksi dan pemasokan yang paling optimal dalam skala global, sehingga
standar yang dituntut semakin ketat.

Oleh karena itu tantangan bagi Indonesia adalah penataan infrastruktur,
seperti arus barang, tenaga listrik dll, pengembangan industri
pendukung yang sanggup memasok komponen lokal, capacity building dll.

Peserta dari perusahaan Jepang sedang mempertimbangkan berbagai investasi senilai
800 miliyar yen atau senilai 7 miliyar USD selama 5 tahun ke depan. Agar rencana
investasi terwujud dengan lancar dan dapat meningkatkan jumlah perusahaan yang ikut
serta berinvestasi, maka sangat penting untuk mendengar masukan dari perusahaan
Jepang melalui forum investasi gabungan pemerintah-swasta dll.

Selain itu, perlu juga untuk terus memperbaiki iklim investasi agar lebih menarik.

Toyoda: Indonesia Diharapkan Menjadi hub dalam Kemitraan Ekonomi ASEAN

Dengan JIEPA dimana 90% bea masuk produk menjadi nol selama 10 tahun ke
depan, maka dalam rangka liberalisasi perdagangan, daya saing akan
dapat ditingkatkan, sehingga dimungkinkan juga terjadi peningkatan
investasi. Selain itu juga kerangka kebijakan pengembangan industri
juga sudah disetujui, termasuk pendirian pusat pengembangan manufaktur
dll.

Menyusul kemitraan di kawasan Asia Timur, kemitraan ekonomi
komprehensif ASEAN akan disetujui pada tanggal 25 Agustus. Sebagai
langkah berikut CEPEA (kemitraan ekonomi sekawasan timur), dimana 5 EPA
dimitrakan dengan kerangka ASEAN +1 sehingga kemitraan bilateral
menjadi EPA yang lebih berdimensi. Dengan demikian 600 juta dari ASEAN
dan Jepang, dan 3 miliyar CEPEA secara keseluruhan menjadi satu pasar
dan Indonesia diharapkan menjadi hub kemitraan ekonomi ASEAN.

John: Diharapkan Memposisikan Indonesia sebagai Gateway antara ASEAN dan Timur Tengah

Dikutip dari hasil survei JETRO terhadap perusahaan Jepang di kawasan
Asia yang diterbitkan pada bulan April, bahwa 50% perusahaan Jepang di
Indonesia merencanakan
perluasan selama 2-3 tahun kedepan.

Diantaranya 131 perusahaan Jepang memposisikan Indonesia sebagai negara
yang memiliki potensi kuat di pasar domestik dan juga merupakan negara
tujuan investasi yang penting.

China juga merupakan negara tujuan investasi penting bagi Jepang selama 10 tahun
ini, namun menurut laporan tersebut, banyak perusahaan mulai
mempertimbangkan negara lain seperti India, Indonesia, Vietnam dll
sebagai strategi China +1, sehingga
diusulkan 2 strategi regional kepada misi ekonomi sebagai berikut:

Pertama, apabila kawasan perdagangan bebas ASEAN terwujud pada tahun 2010 dan
kawasan ekonomi terpadu pada tahun 2015, mewujudkan pasar tunggal dimana arus
barang, jasa, investasi, SDM dll menjadi bebas.
Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang luas dan memiliki
penduduk terbesar di ASEAN serta dengan semakin meningkatnya standar
pendapatan, dapat menjadi gateway yang menarik untuk memasuki pasar
ASEAN.

Kedua, berkaitan dengan keuangan berdasarkan prinsip Islam yang sedang dikembangkan
di Indonesia secara aktif, maka Indonesia dapat menjadi jembatan antara Timur Tengah
dan Asia Timur. Oleh sebab itu, maka Ia berharap agar peserta mempertimbangkan
pembiayaan dari Indonesia sebagai gateway permodalan.

Hayashi: Diharapkan Indonesia menjadi Gateway antara Kawasan ASEAN dan Timur Tengah

Ia menilai bahwa sejak krisis moneter Asia, Indonesia belum bisa
memanfaatkan potensi yang dimiliki secara optimal, namun di bawah
kepemimpinan presiden SBY, Indonesia dapat memasuki masa stabil dari
segi politik, dan dapat mengatasi berbagai kesulitan ekonomi seperti
kenaikan harga BBM dan serangkaian bencana alam, sehingga tetap dapat
memasuki masa pertumbuhan.

Penting bagi Indonesia untuk memposisikan diri sesuai dengan potensi
yang dimiliki dalam jaringan kegiatan usaha di Asia yang semakin
berkembang. Bagi perusahaan Jepang, JIEPA menjadi momen yang penting
dalam meningkatkan nilai Indonesia dalam strategi global atau regional.

Menurutnya, yang penting adalah JIEPA dapat memberikan manfaat bagi perusahaan
secara nyata. Berdasarkan MoU yang ditandatangani antara JETRO dan KADIN, juga
terdapat pengembangan industri pendukung seperti, pengelolaan bussiness support
desk, dimana diberikan peluang usaha bagi perusahaan dari kedua negara, kerjasama
dalam capacity building kepada perusahaan Indonesia, bantuan kegiatan IMDIA dalam
rangka initiatif MIDEC(pusat pengembangan manufaktur).

Ia menunjukkan minat untuk bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dalam mengatasi
masalah domestik yang sedang diupayakan dalam arus globalisasi. Dengan
program OVOP dan kebijakan UKM, pengalaman Jepang diperkenalkan di
Indonesia dan terus diadakan dialog dengan pemerintah Indonesia,
sehingga suatu saat perusahaan Jepang dan Indonesia akan melaksanakan
usaha bersama di negara ketiga.
Dalam hal ini, JETRO dapat membantu dengan memanfaatkan jaringan global yang dimiliki.

Dengan mempertimbangkan China yang memiliki ketidakpastian dan ketidaktransparan
sistim, yang disebabkan adanya kenaikan biaya tenaga kerja, kenaikan
kurs dan perubahan kebijakan PMA, serta Vietnam dengan tingkat
pendapatan yang rendah dan
sulit diharapkannya peningkatan penjualan mobil. Maka Indonesia memiliki kesempatan
yang lebih dapat diharapkan,, oleh sebab itu baik pihak pemerintah maupun swasta
Indonesia diharapkan dapat melaksanakan perbaikan iklim investasi secepat mungkin.

===================================================Business Matching Database (TTPP)
Melakukan kemitraan bisnis secara online melalui layanan JETRO

Database tentang kemitraan bisnis secara online yang tersedia gratis, memungkinkan
perusahaan dan perorangan diseluruh dunia melakukan kemitraan bisnis melalui sekitar
30,000 usulan dan/atau proposal bisnis. TTPP menjangkau mitra bisnis potensial di Jepang dan dunia internasional.
Daftarkan perusahaan anda dan sampaikan proposal bisnis anda melalui TTPP http://www3.jetro.go.jp/ttppoas/index.html

TTPP juga dapat diakses melalui website KADIN Indonesia
http://www.kadin-indonesia.or.id (klik pada bagian “temu usaha”).

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Polling

Bagaimana menurut pendapat anda tentang pelayanan Kadin?
 

Syndicate


Login Form






Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar

Sedang Aktif