| Kadin-Operator Feri Bahas "Port Tax" |
|
|
|
| Jumat, 06 Juni 2008 | |
|
Hasil Pertemuan Disampaikan GubKepri
BATAM (BP) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepri bertemu dengan para operator feri yang melayani rute Batam-Singapura dan sebaliknya di gedung Kadin Kepri, Pelita, Kamis (5/6) Siang. Pertemuan itu membahas antisipasi rencana pemindahan terminal feri Batam tujuan Singapura, dari Harbour Front ke Tanah Merah, Singapura. Di samping itu, pertemuan tersebut juga membahas layanan feri dan fasilitas port tax untuk menunjang sektor pariwisata di Batam pada khususnya dan Provinsi Kepri pada umumnya. Hasil pertemuan itu, selanjutnya akan disampaikan Kadin Provinsi ke Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah. "Gubernur (GubKepri) Ismeth Abdullah, red) meminta Kadin Provinsi memfasilitasi pertemuan dengan feri operator. Tindak lanjut dari itu, Kadin Provinsi bertemu dengan feri operator hari ini (Kamis, red), dan hasilnya akan kita laporkan ke Bapak Gubernur lagi,"ujar Ketua kadin Kepri, Johanes Kennedy Aritonang kepada Batam Pos usai pertemuan itu, kemarin siang. Kemudian Jadi Rajagukguk Wakil Kadin Kepri menambahkan bahwa pembahasan ini tidak semata-mata membahas rencana pemindahan pelabuhan Harbour Front. " Kita mempelajari berbagai masalah yang terkait dengan pelayanan feri ini. Karena ini menyangkut pelayanan turis ke Batam. Misalnya saja banyaknya pungutan, kapal yang sudah tua. Kalau perlu kita pikirkan jangan kapal feri Batam-Singapura itu semuanya milik orang asing. Kita juga bisa, khan ada dana pendamping. Masih banyak lagi,"ujar Jadi Rajagukguk Wakil Ketua kadin Kepri. Hadir dalam pertemuan itu, Ketua Kadin Kota Batam, Nada F. Soraya dan Direktur Eksekutif (DE) Kadin Batam, Achyar Nasution. Jajaran Pengurus Kadin Provinsi Kepri juga hadir dalam acara itu. Pria yang kerap dipanggil John Kennedy itu menambahkan, ada beberapa poin yang dibahas pada pertemuan yang dihadiri feri operator, ASITA, PHRI dan pengusaha yang bergerak di industri pariwisata. Di antaranya, penambahan daya angkut, dan jadwal (trip) feri dari Batam ke Singapura. "Penambahan jadwal feri itu, tentu saja bisa menambah jumlah kunjungan wisatawan ke Batam. Sehingga, industri pariwisata di Batam dan Kepri juga berkembang seperti Singapura, "paparnya. Industri pariwisata Singapura, lanjutnya, telah memberi kontribusi yang besar terhadap penerima negara pulau itu. "Sektor tourism Singapura kontribusinya berada di peringkat kedua, di bawah nilai ekspor. Jadi memang tourism mereka sangat besar,"paparnya. Ditambahkan Jhon, hal lain yang dibahas pada pertemuan itu adalah waktu tempuh feri dari Batam ke Singapura. Selama ini, waktu tempuh rata-rata feri dari Batam tujuan Singapura berada di atas satu jam. "Waktu tempuh feri Batam-Singapura sama dengan waktu tempuh jika menggunakan pesawat dari Jakarta ke Singapura. Padahal, jika melihat jarak Batam-Singapura yang relatif dekat, waktu tempuh itu bisa diminimalkan lagi menjadi di bawah satu jam,"tambahnya. Jika waktu tempuh itu bisa dikurangi manjadi satu jam, John mengaku, jumlah wisatawan Singapura yang menggunakan feri ke Batam akan semakin meningkat. "Ini masalah kenyamanan investor yang mau datang ke Batam, makanya kita meminta agar teknologi dan fasilitas feri bisa diperbaiki dengan yang lebih baru,"imbuhnya. Pertemuan itu, lanjutnya, juga membahas keberatan feri operator dan pengusaha atas kenaikan pajak pelabuhan (port tax) menjadi 21 dolar Singapura. "Mestinya kedatangan investor ke Batam melalui pelabuhan feri, menjadi concern seluruh stakeholder, " paparnya. Masih tentang port tax yang besarnya 21 dolar Singapura tadi, John meminta legislatif untuk melihat pajak secara komprehensif. "Ingat pajak pelabuhan (port tax) itu berhubungan erat dengan sektor pariwisata. Jadi, pariwisata itu berkaitan erat dengan pajak, "ucapnya. Ia juga mengingatkan, pelabuhan di Batam merupakan pintu masuk dari Singapura dan Johor Malaysia. Apakah rencana pemindahan tempat berlabuh feri Batam dari pelabuhan Harbour Front ke Tanah Merah juga dibahas dalam pertemuan itu?"Antisipasi apabila ada pemindahan feri itu juga dibahas, tapi yang paling penting adalah meningkatkan daya angkut feri, dan menambah jadwalnya. Serta meninjau port tax yang terlalu mahal," cetusnya. (Batam Pos, Jumat 6 Juni 2008) |
| Berikutnya > |
|---|







